Perokok Pasif (kisah, inspirasi)

[SEE MORE, READ, LIKE & SHARE]

Jam setengah lima pagi aku sudah harus bangun, meski rasa ngantuk masih melanda. Mencuci muka, setidaknya dengan melakukan ini bisa mengusir rasa kantukku dan segera mengembalikan kesadaranku. Usai menunaikan kewajiban di waktu subuh, aku berangkat bersepeda menuju jalan besar di depan kompleks yang terletak 300 meter dari rumahku.

Tumpukan koran itu sudah tersusun rapi di sudut warung milik bu Ani. Tempat ini tergolong aman untuk menitipkan koran-koran itu sebelum aku mengantarkannya ke rumah para pelanggan, setidaknya hingga saat ini. Kalau sedang hujan, aku harus datang lebih awal dari paman yang mengantarkan koran itu agar tidak basah oleh hujan. Aku adalah peloper koran.

Sudah 8 bulan aku mejalani kegiatan rutin semacam ini, setiap hari, setiap pagi. Semenjak ibu harus pergi untuk selamanya meninggalkan kami, aku dan ayahku. Aku harus mencari uang tambahan, minimal untuk membeli keperluanku. Aku sendiri adalah anak tunggal. Pelajar kelas satu SMA dengan kemampuan rata-rata, tidak terlalu cerdas.

Saat ibu masih bersama kami, aku tidak perlu melakukan pekerjaan itu. Ibu pasti akan melarangku. Katanya aku harus sekolah dan belajar yang rajin, orang tualah yang berkewajiban menafkahi anaknya.

Hingga setahun yang lalu, ibu terkena penyakit ganas. Aku dengar penyakit kanker telah menyerang paru-paru ibu. Aku sama sekali tak paham tentang penyakit itu. Ibu memang sudah lama sekali mengeluh sakit pada bagian dadanya.

Orang-orang mengatakan penyakit itu karena merokok, tapi yang aku ketahui ibu tidak merokok. Kalau ayah, ia memang merokok, perokok berat malah. Entah berapa batang rokok yang dihabiskannya dalam sehari.

Setiap melakukan aktivitas tak pernah sekalipun ayah bisa lepas dari batang rokoknya. Bahkan saat aku ingin menggunakan kamar mandi, aku harus menunggu sekitar 10 menit lebih untuk menghilangkan asap dan bau rokok dari kamar mandi yang telah digunakan ayah sebelumnya.

Setelah mendapatkan penjelasan dari kakak-kakak aktivis pada hari anti tembakau di sekolahku sebulan yang lalu, aku jadi mengerti bagaimana rokok membunuh ibu. Meskipun aku yakin kematian itu adalah takdir yang tidak dapat dihindari, tapi setidaknya ibu tak harus menderita sekian lama karena menjadi perokok pasif.

Mungkin saat ini aku pun sudah menjadi perokok pasif, katanya perokok ketiga. Meskipun pada saat ayah sedang merokok aku selalu menjauh, tapi zat beracun dari rokok mungkin saja menempel di mana-mana. Bisa saja abu sisa rokok yang menempel di meja, kursi, dinding, pakaian ataupun kain-kain lainnya terhirup olehku.

Lalu bagaimana dengan ayah. Sebagai perokok aktif, bukannya akan lebih mungkin terkena penyakit. Bagaimana mungkin ayah tidak bisa membaca peringatan pada bungkus-bungkus rokok itu. Bukankah ayah seorang yang berpendidikan lebih tinggi dariku.

Aku tidak suka asap rokok, aku tidak suka bau rokok. Ayah, sungguh aku sangat takut. Aku takut kehilanganmu. Aku takut tumbuh sendiri tanpamu. Berhentilah merokok, untukku..

– dari berbagai sumber –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s